Jumat, 11 Februari 2011

PENDEKATAN BEHAVIOR

A. Hakekat Manusia

Pendekatan Behavioristik ini pandangannya tentang manusia adalah :

  1. Manusia sebagai mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol atau dipengaruhi oleh faktor- faktor dari luar
  2. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
  3. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya
  4. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan, melalui hukum-hukum belajar Pembiasaan klasik, Pembiasaan operan dan Peniruan.
  5. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.
  6. Manusia cenderung akan mengambil sti-mulus yang menyenangkan dan menghin-darkan stimulus yang tidak menyenang-kan.
  7. Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diteri-manya.
  8. Memahami kepribadian manusia sama halnya mempelajari dan memahami bagaimana terbentuknya suatu tingkah laku

B. Pribadi yang sehat.

1. Mampu mengorgansiri lingkungan sehingga individu dapat bertingkah laku sesuai dengan tuntutan lingkungan/ mampu menyeuaikan diri.

C. Pribadi yang tidak Sehat.

  1. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan
  2. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah
  3. Manusia bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya
  4. Tingkah laku maladaptif terjadi karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat
  5. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar

D. Kondisi perubahan.

1. Tujuan Konseling

a. Tujuan secara umum adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar.

b. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik

1). Diinginkan oleh klien

2). Konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut

3). Klien dapat mencapai tujuan tersebut

4). Dirumuskan secara spesifik

c. Mengahapus atau menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk di-gantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.

2. Peran Konselor

a. memberi perkuatan-perkuatan social baik positif maupun negative.

b. membentuk tingkah laku klien baik dengan cara langsung maupun tidak langsung.

c. memanipulasi dan mengendalikan psikoterapi dengan pengetahuan dan kecakapannya menggunakan teknik-teknik belajar dalam situasi perkuatan social.

d. menunjang perkembangan tingkah laku yang secara social layak dengan secara sistematis memperkuat jenis tingkah laku klien.

e. Sebagai model bagi klien.

f. mendengarkan kesulitan klien secara aktif dan empatik.

3. Peran Klien

Untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan memperluas pembendaharaan tingkah laku adaptifnya.

4. Pengalaman klien.

a. Keterlibatan klien dam proses konseling menjadi lebih aktif dalam pemilihan dan penentuan tujuan-tujuan, harus memiliki motivasi untuk berubah, dan bersedia bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan konseling. Jika klien tidak terlibat secara aktif maka konseling tidak akan membawa hasil yang memuaskan.

b. Partisipasi klien dibangun dalam tiga fase yaitu :

1). Tingkah laku kilen dianalisis dan pemahaman yang jelas terhadap tingkah laku akhir dengan partisipasi aktif dari klien setiap bagian dari proses pemasangan tujuan.

2). Cara-cara alternative yang bisa diambil klien dalam mencapai tujuan.

3). Program treatmen direncanakan.

5. Hubungan antara konselor dank lien.

Hubungan antar konselor dank klien merpakan hubungan yang mekanis, manipulatif dan sangat interpersonal. Dengan terlebih dahulu konselor membangun kepercayaan dengan memperlihatkan bahwa ia memahami dan menerima klien, konselor dank lien membangun kerjasama dan konseling berguna dalam membantu kearah yang dikehendaki klien.

E. Mekanisme Perubahan.

a. Tahapan dalam Konseling.

Proses konseling dibingkai oleh kerangka kerja untuk mengajar klien dalam mengubah tingkah lakunya. Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut.

1). Identifikasi

a). Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu

b). Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.

2). Perumusan Tujuan

a). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling

b). Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

i. Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien

ii. Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sbg hasil konseling.

iii. Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien

1) apakah merupakan tujuan yang benar-benar diinginkan klien

2) apakah tujuan itu realistik

3) kemungkinan manfaatnya

4) kemungkinan kerugiannya.

iv. Konselor dan klien membuat keputusan apakah :

1) melanjutkan konseling dengan mentapkan teknik yang akan

dilaksanakan

2) mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai

3) melakukan referal

c). Implementasi Teknik

menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling

d). Evaluasi

melakukan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling

e). Tindak lanjut

memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.

b. Teknik Konseling

1. Latihan Asertif

a. Digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar

b. Terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya

c. Cara : permainan peran dengan bimbingan konselor, diskusi kelompok

2. Desensitisasi Sistematis

a. Memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks

b. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan

c. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap

d. Tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.

3. Pengkondisian Aversi

a. Digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan (menyakitka) shg tk laku tsb terhambat kemunculannya. Stimulus dpt brp sengatan listirk atau ramuan yang membuat mual

b. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya

c. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

4. Pembentukan Tingkah laku Model

a. Digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk

b. Konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh

c. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor : dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar